Rasanya Mendaki Gunung Lawu?

 


Disini Saya akan menceritakan pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan yaitu mendaki Gunung Lawu.


Ini adalah hal yang pertama kali saya lakukan dalam seumur hidup saya, dan saya samasekali belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Di ajak nya saya bersama teman teman kampus saya untuk berlibur mendaki sebuah gunung Lawu yang berada di perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur.

Sebelum saya menceritakan pengalaman saya. Saya ingin memperkenalkan sedikit gunung Lawu yang saya daki ini kepada kalian. 

Gunung Lawu menjadi salah satu gunung di Jawa yang sering menjadi lokasi kegiatan pendakian. Kendati begitu, cukup banyak misteri yang menyelimuti gunung setinggi 3.265 meter ini. Sejarah Gunung Lawu pun kerap dikaitkan dengan legenda tentang Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Terletak di perbatasan dua provinsi, meliputi Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah serta Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan di Jawa Timur, Lawu menempati posisi ke-76 gunung tertinggi di dunia. Gunung ini memiliki tiga puncak, yaitu Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan yang paling tinggi bernama Hargo Dumilah. Gunung Lawu sebenarnya termasuk gunung api. 

Bahkan, Stephen Backshall dalam buku bertajuk Indonesia (2003) menyebut bahwa Lawu merupakan salah satu gunung volkano terbesar di Jawa. Hanya saja, gunung ini cukup lama “beristirahat” alias tidak aktif lagi untuk sementara. Tercatat, Gunung Lawu terakhir kali erupsi pada 28 November 1885. Selain sebagai lokasi pendakian, Gunung Lawu terbilang populer karena terdapat banyak destinasi wisata di sekitarnya, sebut saja Tawangmangu, Cemorosewu, Telaga Sarangan, Candi Sukuh, Candi Cetho, Astana Giribangun, Kebun Teh Jamus, berbagai lokasi air terjun, dan masih banyak lagi.

Nah saya akan memulai cerita saya mendaki gunung ini.

    Di awal tahun 2019 lalu saya di ajak oleh teman teman saya mendaki gunung Lawu. Dalam hati berkata bahwa "saya ingin sekali ikut, tapi saya takut" akhirnya saya terus terang kepada temen saya. Dan temen saya pun meyakini saya bahwa mereka akan menjaga saya. Akhirnya saya izin kepada Orang Tua saya di bantu oleh teman teman saya. Dan akhirnya saya mendapat izin dari mereka

    Berangkatnya saya ke gunung lawu dengan menggunakan Transportasi umum lalu sampai di stasiun Ps Senen menuju Klaten. Sesampainya di Klaten kami berjalan kerumah teman kami kebetulan dekat dengan stasiun. Lalu kita beristirahat sejenak, butuh waktu 10jam lebih berada di kereta membuat kita cukup kelelahan.

    Setelah cukup beristirahat akhir nya mas Bayu pun datang. mas Bayu adalah supir yang kita sewa mobil nya untuk berangkat dari Klaten menuju ke base camp gunung Lawu. Dan kita berangkat menggunakan mobil Losbak. Betapa bahagianya kita berjalan dengan mobil yang tidak ada atap nya lalu memandangi indahnya kota klaten, apalagi kalau sudah sampai di daerah kab. Karanganyar. Pemandangan yang sangat menakjubkan

    Akhirnya kita pun sampai di basecamp dan kita mendaki melalui jalur/via Cemoro Sewu. dan kita beristirahat lagi sambil menunggu terbitnya matahari. hanya butuh waktu 2jam untuk sampai ke basecamp Cemorosewu.

    Sampailah terbitnya matahari kita langsung beres beres dan bergegas untuk nanjak. sebelum nanjak pastinya kita mengabadikan moment dengan berfoto di basecamp Cemoro Sewu. Dan sehabis berfoto kita berkumpul untuk briefing dan bersama sama membaca Do'a. Di sini adalah saat yang paling saya suka yaitu ber Do'a bersama teman teman saya karena ber Do'a itu adalah sesuatu yang Sakral. Dimana kita meminta kepada Allah SWT untuk melindungi dan mempermudah jalan kita.

    Setelah selesai kita ber Do'a mulai lah kita berjalan memasuki area hutan gunung Lawu. Semangat saya masih mengelegar di sini, dan kita telah beristirahat di pos 2. Tetapi ketika kita sudah berjalan sekitar 5 jam mulut saya pun mulai berkata "Masih Jauh ya?" Teman saya pun yang sudah berpengalaman mendaki gunung hanya mempertawakan saya dan hanya menjawab "Masih lah. Paling sampe nya sore nanti jam 5". Saya pun kaget saya kira teman saya ini berbohong tapi ternyata ia benar.

    Butuh waktu 5 jam lagi untuk sampai di pos terakhir, dan akhirnya sampai lah kita di pos 3. Saking capek nya saya hanya dengan duduk bersandar di Carrier saya langsung tertidur lelap dan sayang nya tidak ada yang membangunkan saya. Setengah jam saya tertidur saya pun kaget "kenapa kita sisa ber 7, 3 orang lagi kemana?" tanya saya. Ternyata teman saya yang ber 3 tadi sudah jalan duluan niat untuk menggelar tenda dan memasak untuk kita nanti. Saya pun merasa tidak enak karena saya tertidur teman teman saya menunggu. Lalu kita melanjutkan perjalanan menuju pos 4.

    Nah disini lah kita mulai teruji dengan lintasan yang sangat melelahkan, Merasa kelaparan, Dan kurang nya istirahat yang cukup. Medan yang kita lalui dari pos 3 ke pos 4 itu sangat parah dengan menaiki anak tangga. Belum lagi beban yang kita bawa di dalam tas Carrier. Dan akhirnya kita tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 4.

    Hari pun mulai gelap, Suara suara burung mulai berkicau dengan sangat keras menandakan hari sudah petang, Kita pun sudah tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya 2 orang dari kita berinisiatif untuk memberitahu teman teman kita yang sudah sampai duluan. Awalnya saya tidak mengizinkan karena saya tidak ingin ada yang terpisah lagi. Tapi mau gimana lagi kondisi kita sudah mulai down.

    Akhirnya 2 orang dari kita berjalan menuju pos 4, ternyata tidak jauh dari tempat peristirahatan kita. Akhirnya teman saya berteriak "Di sini saja ada tempat landai untuk menggelar tenda" lalu saya balas dengan berteriak "Jauh ngga tempat nya" Padahal hanya beberapa meter saya dan teman saya berteriak. Tetapi teman saya samasekali tidak mendengar apa yang saya katakan, bahkan sampai saya meniupkan pluit dia tidak mendengar nya. 

    Ini merupakan sesuatu yang aneh untuk saya tapi saya harus selalu positif thinking karena saya masih berada di kawasan guning Lawu dan tidak boleh berfikiran yang tidak tidak. Akhirnya kita menuju tempat landai dan menggelar tenda. Di malam itu benar benar dingin dan kita semua kelaparan. Dan kita sudah tidak bisa apa apa sambil menunggu matahari terbit. Di sini lah saya merasakan sesuatu yang lebih aneh lagi, ketika saya tertidur dan terbangun jam 12 malam saya merasakan ada yang melempari saya batu dari arah kanan tenda. padahal sekeliling tempat landai itu jurang. mana mungkin orang iseng melemparkan batu ke atas sampai terkena tenda kita?

    Saya harus tetap berfikir positif dan tidak boleh panik, setelah itu saya lanjut merebahkan tubuh saya dan ingin lanjut tidur. Tetapi... ada yang menendang kaki saya dari luar tenda, di sini saya pikir itu adalah teman saya karena tenda kita tidak terlalu jauh. Dan akhirnya saya bisa kembali tidur lalu pukul 5 pagi saya terbangun dan mendengar suara Adzan Subuh. Aneh nya hanya ada masjid yaitu di basecamp di bawah sana yang sangat jauh dari kita. Tetapi suara Adzan itu sendiri seperti dekat sekali dengan kita. Kenapa bisa seperti itu? Bahkan suara saya yang berteriak sangat kencang saja teman saya tidak mendengar nya? padahal tempat saya dan teman saya tidak terlalu jauh, Saya tetap harus berfikir Positif.

    Ketika saya membuka tenda dan keluar dari tenda saya melihat pemandangan yang sangat menakjubkan yang tidak bisa saya lihat di kota. dengan sunrise yang menyinari dari ujung timur dan melihat lautan awan yang berada di bawah saya.

    Hari sudah terang kita berfikir bagaimana caranya untuk makan dan mengisi perut kita. Masalahnya adalah barang barang logistik di bawa teman kita yang sudah sampai di atas sana. Akhirnya kita menyalakan api untuk memasak bermodalkan kayu kering dan rerumputan, Kalau saja kita ketahuan oleh tim SAR gunung Lawu pasti kita akan di hukum dan kena sanksi karena di wilayah gunung tidak boleh membakar apapun sebab sebelumnya gunung Lawu sempat mengalami bencana yaitu kebakaran hutan yang di sebabkan oleh manusia yang membakar rumput kering dan di tinggal begitu saja.

    Kami tidak ada pilihan lain selain membuat api untuk memasak tetapi kami bertanggung jawab untuk mematikan api dan membersihkan tempat untuk kami memasak. Sehabis makan kita bingung mau melanjutkan perjalanan sampai ke puncak  atau menghentikan perjalanan sampai pos 4 dan kembali ke basecamp. Karena persediaan logistik kami yang kurang dan waktu yang kita tempuh hanya 2 hari 1 malam kita memutuskan untuk berhenti dan kembali ke basecamp dan kita tidak ingin mengambil resiko.

    Dan kita berjalan turun ke basecamp meninggalkan teman kita yang sudah berada di atas, tidak sabar saya ingin menceritakan semua kejadian ini ketika sudah sampai basecamp. Benar saja waktu turun itu lebih cebat di banding saat kita naik. Ketika sudah sampai di pos 2 seketika kita bertemu teman teman kita yang yang berpisah. Dan mereka pun sampai ke puncak gunung Lawu. Sangat sedih saya sudah berjuang tetapi hanya sampai di pos 4 bersama teman teman saya yang lain nya.

    Akhirnya kita melanjutkan perjalanan bersama sampai di pos 1 kita beristirahat cukup lama makan ngopi dan berbincang bincang. Saya pun sudah tidak kuat memendam cerita yang saya rasakan malam itu akhirnya saya ceritakan pas di pos 1. Dan ternyata bukan hanya saya saja yang merasakan tetapi ada beberapa teman saya yang merasakan hal hal aneh di gunung ini. Semua perasaan sedih kesal capek bercampur menjadi satu. ketika kita sudah banyak bicara yang tidak tidak kita melanjutkan perjalanan ke basecamp, aneh nya lagi cuaca sebelum nya terang tiba tiba menjadi mendung dan hujan deras. Kenapa pas kita belum sampai basecamp sudah hujan sih yaampun, akhirnya kita menggunakan jas hujan lalu melanjutkan perjalanan. 

    Sesuatu yang aneh bagi saya yang terakhir saya merasa gunung ini tidak mengizinkan kita pergi makanya di saat kita berjalan itu terasa lama sekali padahal jarak dari pos 1 ke basecamp itu tidak terlalu jauh. Tapi kita merasa bahwa kita berjalan sangat jauh untuk sampai basecamp.

Dan sesampai nya di basecamp kita bersih bersih dan sudah bisa tertawa lagi bersama teman teman bersyukurnya kita dapat selamat semua sampai basecamp lagi. Dan sampai sini lah akhir cerita saya mendaki Gunung Lawu.

Catatan dari saya

1. Ketika kita ingin mendaki sebuah gunung kita benar benar membutuh kan izin restu dari Orang tua
2. Harus selalu solid sama teman kalian jangan sampai terpencar satu sama lain
3. Harus memiliki perlengkapan yang cukup
4. Dilarang buang sampah sembarangan
5. Dilarang mengambil atau merusak apapun Contoh : Memetik, Menebang, Mencabut
6. Jaga sikap seprti prilaku dan ucapan saat berada di gunung

Point terakhir

Jangan memaksakan diri jika sudah tidak mungkin bisa sampai ke puncak. INGAT tujuan utama mendaki gunung itu bukan Puncak tapi tujuan utamanya adalah kita dapat pulang ke rumah dengan selamat, Karena puncak adalah BONUS!!

Komentar

Postingan Populer